
Pengungkapan skema penyelundupan teknologi AI yang sangat besar telah menggemparkan dunia. Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) menemukan bahwa nilai teknologi yang diselundupkan mencapai setidaknya USD 2,5 miliar atau sekitar Rp 42 triliun. Skema ini melibatkan perusahaan-perusahaan ternama di Silicon Valley dan melanggar aturan ekspor yang ketat dari pemerintah AS.
Salah satu tokoh penting dalam kasus ini adalah Yih-Shyan Liaw, salah satu pendiri perusahaan server AI besar, Super Micro Computer Inc. Liaw, yang memiliki kewarganegaraan AS, ditangkap bersama dengan kontraktor bernama Ting-Wei Sun. Sementara itu, Ruei-Tsang Chang, manajer penjualan Super Micro di Taiwan, masih menjadi buron.
Berdasarkan dokumen pengadilan di Manhattan, ketiga tersangka diduga melakukan skema yang rumit untuk menghindari pembatasan ekspor AS ke China. Mereka mengirimkan server AI buatan AS ke fasilitas di Taiwan, lalu diteruskan ke beberapa negara Asia Tenggara. Di sana, server canggih tersebut dipindahkan ke kotak tanpa merek sebelum dikirim secara diam-diam ke China.
Untuk menyembunyikan jejak, para tersangka menggunakan cara yang terbilang berani. Mereka memakai pengering rambut untuk menghilangkan label dan nomor seri dari mesin asli, lalu menempelkan mereka ke mesin replika yang tidak berfungsi. Mesin palsu ini digunakan untuk mengelabui tim kepatuhan saat inspeksi, sementara mesin asli yang berisi chip AI mahal sedang dalam perjalanan ke China.
DOJ menyebut bahwa skema ini semakin berani seiring waktu. Dalam periode April hingga Mei 2025 saja, server senilai USD 500 juta berhasil dialihkan ke China. Pernyataan DOJ menyebutkan bahwa aksi ini mengakibatkan pengiriman server dalam jumlah besar yang berisi teknologi kecerdasan buatan AS yang dibatasi ekspornya ke China.

Dampak dari skandal ini sangat besar bagi perusahaan Super Micro. Meskipun jaksa tidak menyebut nama perusahaan secara langsung dalam dokumen dakwaan, hanya menyebut "produsen AS", pihak Super Micro telah mengonfirmasi bahwa mereka telah diberitahu tentang dakwaan tersebut. Perusahaan menegaskan bahwa mereka tidak menjadi terdakwa dalam kasus ini dan telah bekerja sama sepenuhnya dengan pihak berwenang.
Namun, dampak finansial dari skandal ini sangat signifikan. Saham Super Micro dilaporkan turun hingga 33 persen, sehingga menghapus nilai pasar perusahaan lebih dari USD 5 miliar. Akibatnya, Yih-Shyan Liaw resmi mengundurkan diri dari dewan direksi Super Micro. Perusahaan juga telah menonaktifkan karyawan yang terlibat dan memutus kontrak dengan pihak luar yang terseret dalam kasus ini.
NVIDIA, pemilik chip AI yang paling diminati dalam skema ini, menegaskan bahwa kepatuhan terhadap hukum ekspor adalah prioritas utama. NVIDIA menyatakan bahwa mereka tidak akan memberikan layanan atau dukungan apa pun untuk sistem yang dialihkan secara ilegal ke China. Pernyataan juru bicara NVIDIA menyebutkan bahwa pengalihan ilegal komputer AS yang diawasi ke China adalah tindakan yang merugikan dari segala sisi, dan mekanisme penegakan hukum yang ada sangat ketat serta efektif.

0 Response to "AS tangkap dua pelaku penyelundupan chip AI NVIDIA senilai Rp 42 triliun ke Tiongkok"
Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!
Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.