Kemampuan Manusia yang Tak Bisa Ditiru Robot Paling Canggih

Buku "Robot Proof" dan Persiapan Menghadapi Masa Depan


Buku Robot Proof karya Joseph E. Aoun menjadi salah satu referensi penting bagi saya dalam menganalisis persiapan menghadapi penggunaan robot yang semakin masif di berbagai bidang pekerjaan. Dalam buku ini, Joseph menjelaskan bahwa menurut situs jejaring profesional LinkedIn, sekitar sepuluh persen dari keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja saat ini adalah keterampilan teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya memengaruhi struktur pekerjaan, tetapi juga kebutuhan akan keterampilan baru.

Pekerjaan yang berkaitan dengan teknologi terus meningkat seiring dengan integrasi teknologi ke dalam hampir semua industri. Faktanya, meskipun teknologi dapat menciptakan pekerjaan baru, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Teknologi, termasuk robot, mesin canggih, dan kecerdasan buatan, memiliki potensi untuk menggantikan manusia dalam banyak pekerjaan. Dalam buku Rise of the Robots: Technology and the Threat of a Jobless Future, Martin Ford memberikan gambaran yang meyakinkan bahwa teknologi akan menggantikan pekerjaan kerah putih. Namun, ia juga menyatakan bahwa teknologi akan membuka industri baru yang menciptakan pekerjaan dengan nuansa yang berbeda.

Jurnalis New York, Ryan Avent, juga menyampaikan gagasan serupa bahwa teknologi baru akan menciptakan pekerjaan baru, terutama untuk mereka yang kurang terampil. Meski demikian, hal ini tidak cukup untuk menyelesaikan masalah kelimpahan tenaga kerja. Kolaborasi antara otomatisasi, globalisasi, dan minimnya penguasaan teknologi akan terus menekan nilai tenaga kerja manusia, termasuk di Indonesia.

Namun, dalam pembahasan ini, ada dua poin penting yang perlu diperhatikan. Pertama, sebagian besar bumi masih penuh misteri karena belum sepenuhnya dijelajahi. Ada banyak hal yang bisa ditemukan jika kita memfokuskan pandangan kita pada potensi tak terbatas. Bumi memiliki daratan luas yang perlu dikaji, lautan dalam yang perlu diselami, dan berbagai kanvas yang perlu dilukis. Dari hobi hingga pekerjaan yang menjanjikan, manusia masih memiliki banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Masalah utamanya adalah apakah kita sudah memenuhi syarat untuk berada di zona ini?

Poin kedua adalah teknologi mampu meningkatkan standar pendidikan. Pendidikan hari ini harus selalu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Jika pekerjaan masa depan menuntut banyak hal, maka pendidikan juga harus memberikan pemahaman yang sama. Pendidikan tidak cukup hanya memberikan pemahaman tentang cara kerja teknologi, tetapi juga harus menjelaskan kelemahan teknologi dan bagaimana manusia bisa mengimbanginya. Dengan kata lain, pendidikan harus memiliki ketahanan terhadap robot dan menjaga pengetahuan tentang apa saja titik unik manusia yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Salah satu kapasitas manusia yang sulit dipahami adalah kemampuan berkreasi. Berpikir kreatif adalah keahlian mutlak yang dimiliki setiap manusia. Kemampuan ini hanya diberikan Tuhan kepada manusia dan tidak bisa digantikan oleh robot paling canggih sekalipun. Konten kreator teknologi Tanah Air, Raymond Chin, juga menyoroti hal ini. Dalam video YouTube miliknya berjudul "Hati-Hati Pengangguran Karena AI", ia menyatakan bahwa orang yang tidak tergantikan oleh AI adalah mereka yang berpikir kritis dan kreatif.

Meskipun robot memiliki kecepatan dan kecerdasan yang melebihi manusia, mereka hanya mampu menampilkan data dan fakta yang sudah tersedia. Robot tidak bisa berkreasi untuk menciptakan hal baru. Psikologi kognitif telah memberikan banyak bahan kajian tentang kreativitas. Pada tahun 1960-an, Paul Torrance mengembangkan tes untuk mengukur kreativitas seseorang. Misalnya, dengan meminta anak-anak menggambar objek di sekitar mereka lalu menggabungkannya menjadi sebuah cerita. Tes seperti ini sering digunakan dalam pendidikan dan konteks pekerjaan.

Satu konsep besar dalam pengujian kreativitas adalah alur pikir konvergen dan divergen. Pemikiran konvergen terjadi ketika seseorang berfokus pada jawaban pasti, seperti menjawab soal pilihan ganda. Sementara itu, pemikiran divergen adalah pola pikir yang membangkitkan kapasitas manusia untuk berpikir kreatif melalui aliran ide yang bebas. Contohnya adalah mengarang bebas, improvisasi dalam drama, atau menggambar sketsa spontan. Pemikiran divergen sering dikaitkan dengan rasa ingin tahu, keberanian mengambil risiko, dan keinginan untuk berbeda.

Meskipun pemikiran konvergen dan divergen memiliki beberapa kesamaan, seperti kemampuan memahami dan mengurai informasi, pemikiran divergen membutuhkan kepekaan tinggi terhadap perubahan dan kemampuan untuk menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan. Ini adalah aspek penting yang harus diperhatikan dalam pendidikan dan pelatihan di masa depan.

Suka dengan postingan berjudul Kemampuan Manusia yang Tak Bisa Ditiru Robot Paling Canggih? Nggak ada salahnya untuk berlangganan update postingan terbaru dari Blog of Bang Hendra | All About Anything langsung via email sekarang juga. GRATISS!!!

0 Response to "Kemampuan Manusia yang Tak Bisa Ditiru Robot Paling Canggih"

Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!

Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.

Chat Room

Kamu bisa chat bareng Admin di sini dengan Messenger.
Terima kasih

Chat on Messenger