
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memiliki rencana besar dalam pengembangan energi hijau. Salah satu proyek yang sedang dikembangkan adalah pilot project Hidrogen Hijau Ulubelu, yang diharapkan dapat mulai beroperasi pada kuartal III-2026. Proyek ini akan memiliki kapasitas produksi sekitar 80–100 kilogram per hari.
Manager Corporate Communication & CSR Pertamina Geothermal Energy, Muhammad Taufik, menjelaskan bahwa fasilitas ini menggunakan energi panas bumi yang dipadukan dengan teknologi elektrolisis modern yang hemat energi. "Pilot Project Green Hydrogen Ulubelu dirancang tidak hanya sebagai sarana produksi, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran, uji komersial, dan studi pasar," katanya.
Proyek ini menjadi langkah strategis PGEO dalam membangun ekosistem hidrogen hijau secara end-to-end. Tujuannya adalah untuk mendukung transisi menuju industri rendah karbon, membuka peluang solusi beyond electricity untuk sektor transportasi dan industri, serta menjadi landasan bagi akselerasi pengembangan hidrogen hijau nasional.
Dalam pengembangan ekosistem ini, hidrogen yang dihasilkan di Ulubelu akan disalurkan ke PT Pertamina Energy Terminal Tanjung Sekong. PGEO bekerja sama dengan PT Elnusa Petrofin sebagai transporter. Melalui langkah ini, diharapkan bauran energi hijau di Terminal BBM/LPG dapat ditingkatkan dan direplikasi di terminal lainnya. Ekosistem hidrogen di terminal BBM dan LPG akan menjadi penting sebagai fondasi rantai pasok dalam menghadirkan energi hijau untuk negeri pada masa mendatang.
Saat ini, pilot project Hidrogen Hijau difokuskan sebagai tahap awal untuk uji coba teknologi, studi permintaan pasar, pengujian kualitas produk, serta penyiapan ekosistem hilir hidrogen hijau. Hasil dari fase ini akan menjadi dasar pengambilan keputusan untuk pengembangan tahap berikutnya dengan skala yang lebih besar dan berorientasi komersial. Selain itu, proyek ini juga akan membangun fondasi ekosistem hidrogen hijau yang mendukung transisi energi nasional dan penguatan ketahanan energi.
Dalam jangka menengah, PGEO membuka peluang hilirisasi hidrogen hijau ke produk turunan bernilai tambah seperti metanol hijau dan amonia hijau. Pengembangan ini sejalan dengan Peta Jalan Hidrogen dan Amonia Nasional yang diterbitkan Kementerian ESDM pada April 2025 lalu. Peta jalan ini memetakan pembangunan ekosistem hidrogen domestik hingga 2060 sebagai bagian dari komitmen Indonesia menuju Net Zero Emission 2060.
Meski demikian, PGEO mengakui masih ada tantangan yang dihadapi oleh perusahaan, khususnya terkait aspek tarif, insentif, dan kepastian regulasi. "Untuk menjawab hal tersebut, PGEO bersama Pertamina Group terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan guna menciptakan iklim yang kondusif dan mempercepat realisasi ekosistem hidrogen hijau di Indonesia," tutup Taufik.
Langkah-Langkah Penting dalam Pengembangan Hidrogen Hijau
-
Penggunaan Teknologi Elektrolisis Modern
Proyek ini memanfaatkan teknologi elektrolisis modern yang hemat energi, sehingga efisien dalam produksi hidrogen hijau. -
Fokus pada Uji Coba Teknologi
Pilot project saat ini fokus pada uji coba teknologi, studi permintaan pasar, dan pengujian kualitas produk. -
Kolaborasi dengan Pihak Terkait
PGEO bekerja sama dengan PT Elnusa Petrofin sebagai transporter dan melakukan kolaborasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan. -
Pengembangan Produk Turunan
Dalam jangka menengah, PGEO berencana mengembangkan produk turunan seperti metanol hijau dan amonia hijau. -
Kepastian Regulasi dan Insentif
Meski ada tantangan, PGEO berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi agar tercipta iklim yang kondusif.

0 Response to "PGEO siapkan proyek hidrogen hijau beroperasi kuartal III-2026"
Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!
Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.