Laba Bersih PGEO Turun Jadi Rp2,3 Triliun

Laba Bersih PGEO Turun, Pendapatan Naik

Laba bersih PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengalami penurunan sebesar 14,2% secara tahunan (year on year/yoY) dari US$ 160,5 juta menjadi US$ 137,7 juta atau setara dengan Rp 2,3 triliun (kurs Rp 16.720 terhadap dolar AS) pada tahun lalu. Meski demikian, pendapatan PGEO mengalami kenaikan dari US$ 407,12 juta menjadi US$ 432,72 juta.

Peningkatan pendapatan tersebut sebagian besar berasal dari penjualan uap dan listrik kepada PT PLN Indonesia Power yang meningkat sebesar 6,37% menjadi US$ 415,42 juta. Selain itu, PGEO juga memperoleh pendapatan dari production allowances sebesar US$ 17,30 juta.

Namun, kenaikan pendapatan diikuti oleh peningkatan beban pokok pendapatan yang cukup signifikan, yaitu dari US$ 166,72 juta menjadi US$ 199,66 juta. Hal ini menyebabkan laba bruto PGEO turun dari US$ 240,39 juta menjadi US$ 233,06 juta.

Penurunan laba PGEO terjadi karena adanya rugi selisih kurs sebesar US$ 7,63 juta, yang sebelumnya mencatatkan laba sebesar US$ 15,98 juta. Beban keuangan perseroan juga tercatat turun dari US$ 32,11 juta menjadi US$ 30,28 juta. Akibatnya, laba sebelum beban pajak penghasilan perseroan berkurang dari US$ 228,15 juta menjadi US$ 195,91 juta.

Pengembangan Teknologi Pemanfaatan Panas Bumi di Filipina

PGEO saat ini sedang menjajaki pengembangan teknologi panas bumi hingga ke Filipina. Perseroan melakukan kunjungan ke lapangan panas bumi wet steam terbesar di dunia milik Energy Development Corporation (EDC) di Leyte pada Februari (12/2).

Kunjungan ini merupakan langkah PGEO untuk mengoptimalkan pengembangan teknologi panas bumi melalui penerapan Flow2Max. Flow2Max adalah teknologi pengukuran dua fase (two-phase flow meter) yang memungkinkan pemantauan aliran fluida secara real-time. Dengan teknologi ini, operator dapat mengevaluasi kinerja dan memprediksi produktivitas sumur panas bumi dengan lebih akurat.

Dalam kunjungan ke lapangan panas bumi EDC, PGEO membahas potensi penerapan perdana teknologi Flow2Max serta memperluas peluang kolaborasi internasional. Selain itu, PGEO juga membuka peluang sumber pendapatan baru melalui komersialisasi inovasi teknologi.

Manager Production & Optimization Excellence PGEO, Mohamad Husni Mubarok, menyatakan bahwa Filipina saat ini menempati peringkat ketiga kapasitas panas bumi global setelah Amerika Serikat dan Indonesia. Ia berharap penerapan teknologi Flow2Max dapat mendukung optimalisasi operasional, meningkatkan efisiensi produksi, dan memperkuat pengelolaan reservoir EDC secara berkelanjutan.

Inovasi teknologi Flow2Max dikembangkan dari riset studi Husni saat menempuh pendidikan di University of Auckland. Menurutnya, penggunaan Flow2Max juga memperkuat manajemen dan optimalisasi reservoir di setiap lapangan panas bumi, termasuk membantu mendeteksi dini potensi masalah teknis pada sumur.

Beberapa aspek teknis mulai dibahas, mulai dari kebutuhan teknis, pengukuran lapangan, hingga negosiasi harga sebelum memasuki tahap manufaktur dan pengiriman perangkat untuk instalasi. PGEO menargetkan pemasangan perdana teknologi tersebut pada Juni 2026.

Suka dengan postingan berjudul Laba Bersih PGEO Turun Jadi Rp2,3 Triliun? Nggak ada salahnya untuk berlangganan update postingan terbaru dari Blog of Bang Hendra | All About Anything langsung via email sekarang juga. GRATISS!!!

0 Response to "Laba Bersih PGEO Turun Jadi Rp2,3 Triliun"

Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!

Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.

Chat Room

Kamu bisa chat bareng Admin di sini dengan Messenger.
Terima kasih

Chat on Messenger