Selamat Tinggal Sora, OpenAI Hemat Rp253 Miliar per Hari dan Kembangkan ChatGPT

Penutupan Aplikasi Sora oleh OpenAI

OpenAI baru-baru ini mengumumkan penghentian seluruh operasional aplikasi video Sora. Keputusan ini menandai akhir dari perjalanan platform video generatif berbasis teks yang sebelumnya dianggap sebagai masa depan konten digital. Tim pengembang Sora telah mengumumkan penutupan produk ini dan akan segera memberikan informasi lebih lanjut kepada pengguna.

Penutupan ini mencakup aplikasi mandiri yang baru saja dirilis beberapa bulan lalu serta akses bagi pengembang pihak ketiga. Sebagai bagian dari strategi perusahaan, OpenAI kini sedang memasuki fase "Code Red" atau siaga satu. CEO OpenAI Sam Altman telah memerintahkan pergeseran fokus proyek untuk mengalokasikan sumber daya pada pengembangan ChatGPT, alat pengkodean, dan solusi perusahaan.

Alasan Ekonomi di Balik Penghentian

Salah satu faktor utama di balik keputusan ini adalah masalah ekonomi. Biaya operasional Sora diperkirakan mencapai US$15 juta atau sekitar Rp253 miliar per hari. Pemimpin tim Sora sebelumnya menyatakan bahwa aspek keekonomian produk ini tidak berkembang karena keterbatasan unit pemroses grafis (GPU). Dengan demikian, OpenAI lebih memilih mengalokasikan ratusan miliar dolar untuk pembangunan infrastruktur dan kapasitas komputasi masif.

Produk sampingan dengan biaya tinggi dan adopsi pengguna yang melemah seperti Sora menjadi sangat rentan untuk dipangkas. Selain itu, tekanan hukum terkait hak cipta dari industri gim Jepang juga turut mempercepat penutupan platform ini. Beberapa studio gim yang tergabung dalam Content Overseas Distribution Association (CODA), termasuk Square Enix dan Bandai Namco, menuntut penghapusan konten yang melanggar kekayaan intelektual mereka.

Masalah Etika dan Keterlibatan Pengguna

Selain masalah finansial, Sora juga menghadapi tantangan dalam menjaga keterlibatan pengguna. Meskipun sempat populer pada awal peluncuran, basis pengguna aktif platform ini tidak dapat dipertahankan. Fenomena ini mirip dengan nasib Horizon Worlds milik Meta yang kesulitan menjaga keterlibatan pengguna dalam jangka panjang.

Masalah etika juga menjadi isu penting dalam operasional Sora. Fitur pembuatan deepfake yang disalahgunakan dinilai meresahkan. Platform ini pernah dibanjiri video klon Sam Altman tanpa izin serta video tokoh publik lain yang melampaui batas pengamanan perusahaan.

Pelanggaran Hak Cipta dan Investasi yang Terganggu

Eksploitasi karakter berlisensi seperti Mario, Naruto, dan Pikachu juga menjadi masalah besar. Pengguna sering kali menghasilkan konten ilegal yang melanggar hak cipta, menciptakan risiko hukum yang tidak bisa lagi ditanggung oleh manajemen OpenAI.

Selain itu, penutupan operasional Sora akan memicu penarikan investasi oleh The Walt Disney Company. Raksasa hiburan tersebut secara resmi membatalkan kesepakatan investasi senilai US$1 miliar atau setara Rp15,7 triliun pada platform video AI milik OpenAI. Dalam kesepakatan tersebut, Disney berencana mengintegrasikan konten karakter berlisensi mereka ke layanan Disney+ menggunakan teknologi Sora. Kini, Disney dispekulasikan tengah menjajaki kemitraan dengan platform pesaing seperti Seedance milik ByteDance atau Veo milik Google DeepMind.

Suka dengan postingan berjudul Selamat Tinggal Sora, OpenAI Hemat Rp253 Miliar per Hari dan Kembangkan ChatGPT? Nggak ada salahnya untuk berlangganan update postingan terbaru dari Blog of Bang Hendra | All About Anything langsung via email sekarang juga. GRATISS!!!

0 Response to "Selamat Tinggal Sora, OpenAI Hemat Rp253 Miliar per Hari dan Kembangkan ChatGPT"

Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!

Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.

Chat Room

Kamu bisa chat bareng Admin di sini dengan Messenger.
Terima kasih

Chat on Messenger