
Kenaikan Harga Laptop di Indonesia Akibat Dampak Global
Kenaikan harga laptop di pasar domestik Indonesia saat ini menjadi isu yang semakin mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, termasuk konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Gangguan Distribusi Global dan Kenaikan Harga Komponen
Menurut Muhammad Firman, Head of Corporate Communication ASUS Indonesia, gangguan distribusi global akibat konflik geopolitik membuat pasokan komponen elektronik semakin terbatas. Di sisi lain, tingginya permintaan mikroprosesor untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) juga memperparah kondisi tersebut.
"Industri AI saat ini membutuhkan mikroprosesor dalam jumlah yang sangat besar. Di sisi lain, konflik yang terjadi di Timur Tengah juga mengganggu pengiriman global sehingga berpengaruh terhadap ketersediaan komponen pendukung PC dan laptop," ujarnya saat ditemui di Semarang, Kamis (25/6/2026).
Selain itu, pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS turut meningkatkan biaya impor komponen yang mayoritas masih didatangkan dari luar negeri. Kondisi ini membuat produsen sulit menahan kenaikan harga jual laptop di pasar domestik.
Perubahan Prioritas Pasokan Chip
Firman menjelaskan bahwa produsen semikonduktor kini lebih memprioritaskan pasokan chip untuk pusat data AI dibandingkan perangkat elektronik konsumen. Akibatnya, komponen seperti prosesor, RAM, dan SSD menjadi lebih langka.
Dampaknya, harga laptop mengalami kenaikan cukup tajam. Laptop dengan spesifikasi yang sebelumnya dijual sekitar Rp6 juta kini bisa mencapai Rp8 juta. "Kenaikannya bisa sekitar 50 persen dibandingkan produk yang sama pada tahun sebelumnya. Itu dipengaruhi oleh ketersediaan chip, kondisi supply chain global, serta tekanan biaya komponen," katanya.
Penurunan Penjualan di Segmen Entry Level
Kenaikan harga paling dirasakan pada segmen entry level yang menyasar pelajar, mahasiswa, hingga pelaku UMKM. Menurut Firman, kelompok konsumen tersebut sangat sensitif terhadap perubahan harga sehingga banyak yang menunda pembelian perangkat baru.
Kondisi ini membuat penjualan laptop entry level mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk mengantisipasi perlambatan pasar, ASUS kini lebih fokus membidik segmen korporasi, komersial, dan enterprise yang dinilai memiliki anggaran pengadaan perangkat lebih stabil.
"Kalau segmen entry level sangat sensitif terhadap harga. Berbeda dengan segmen enterprise atau B2B yang biasanya sudah memiliki anggaran untuk pengadaan perangkat sehingga tetap melakukan pembelian meskipun harga naik," ujarnya.
Peluncuran Laptop Bisnis Premium
Di tengah tekanan pasar tersebut, ASUS juga memperkenalkan laptop bisnis premium ASUS ExpertBook Ultra yang menyasar kalangan profesional dan korporasi. Laptop ini dibekali prosesor Intel Core Ultra X9 Processor 388H, kemampuan AI hingga 50 TOPS, RAM hingga 64 GB, penyimpanan SSD sampai 2 TB, serta sistem keamanan berstandar enterprise.
Untuk pasar Indonesia, ASUS ExpertBook Ultra dipasarkan sekitar Rp47 juta, sedangkan ASUS ExpertBook P1 dijual mulai Rp9,3 juta.

0 Response to "Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Laptop dan Pelambatan Penjualan Entry Level"
Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!
Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.