Tiongkok meluncurkan pusat data bawah laut pertama berbasis angin, awal baru infrastruktur AI global

Inovasi Tiongkok dalam Pusat Data Bawah Laut

Tiongkok kini menempuh langkah inovatif dalam membangun infrastruktur digital yang lebih efisien dan berkelanjutan. Salah satu proyek terbaru yang diluncurkan adalah pusat data bawah laut pertama di dunia yang sepenuhnya ditenagai oleh pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai. Proyek ini berada di pesisir Shanghai dan menjadi bagian dari strategi negara tersebut untuk menghadapi lonjakan kebutuhan energi akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Pusat data ini merupakan hasil kolaborasi antara HiCloud Technology dan China Communications Construction Company (CCCC), sebuah perusahaan milik negara Tiongkok. Proyek Shanghai Lingang Undersea Datacentre Demonstration Project memiliki kapasitas sebesar 24 megawatt dan mulai beroperasi pada Mei 2026. Lokasinya berada lebih dari 10 kilometer dari pesisir Shanghai, sekitar 10 meter di bawah permukaan laut.

Fasilitas ini menggunakan pasokan listrik dari ladang turbin angin lepas pantai di sekitarnya. Dengan memanfaatkan pendinginan alami dari air laut, pusat data ini mampu memangkas konsumsi energi hingga lebih dari seperlima dibandingkan pusat data konvensional di daratan. Hal ini sangat penting karena industri AI global saat ini menghadapi tantangan besar terkait kebutuhan energi dan air untuk mendukung infrastruktur digitalnya.

Dalam pusat data konvensional, sekitar 25-40 persen konsumsi listrik digunakan untuk sistem pendingin server. Dengan penggunaan air laut sebagai pendingin alami, pusat data bawah laut dapat mengurangi kebutuhan energi sekaligus menekan penggunaan air tawar. Ini menjadi solusi penting dalam menghadapi masalah konsumsi air yang semakin meningkat.

Lembaga riset United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) memperingatkan bahwa jejak penggunaan air pusat data berpotensi mencapai 9,3 triliun liter pada 2030. Angka ini setara dengan kebutuhan rumah tangga tahunan sekitar 1,3 miliar penduduk Afrika Sub-Sahara. Dalam konteks ini, pusat data bawah laut dipandang sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya air.

Langkah Tiongkok dalam mengembangkan pusat data bawah laut tidak hanya terbatas pada proyek ini. Pada 2023, HiCloud telah mengoperasikan pusat data bawah laut komersial pertama di Pulau Hainan. Namun, proyek terbaru ini menjadi yang pertama di dunia yang terhubung langsung dengan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai. Kawasan Lingang sendiri merupakan zona perdagangan bebas dan pusat teknologi tinggi yang juga menjadi lokasi pabrik gigafactory Tesla.

Meskipun Tiongkok bukan negara pertama yang menguji konsep pusat data bawah laut, mereka melangkah lebih jauh menuju penerapan komersial. Microsoft pernah meluncurkan proyek percontohan pusat data bawah laut di Kepulauan Orkney, Skotlandia, pada 2018. Meski hasilnya menjanjikan, pengembangannya tidak berlanjut ke tahap komersial.

Pakar dari Hong Kong Polytechnic University, Dr. Hanjiang Dong, menilai keberhasilan Tiongkok terletak pada kemampuan menggabungkan kebutuhan pasar, kapasitas industri, teknologi kelautan, dan dukungan kebijakan. Ia menyatakan bahwa Microsoft lebih dahulu membuktikan konsepnya, sedangkan Tiongkok melangkah lebih jauh menuju penerapan komersial karena mampu menyatukan berbagai aspek tersebut dalam sebuah proyek komersial.

Pemerintah Tiongkok menjadikan AI sebagai salah satu pilar utama strategi pembangunan ekonomi. Tahun lalu, pemerintah merilis rencana aksi AI yang mendorong percepatan pembangunan pusat data dan berkomitmen meningkatkan pasokan energi bersih bagi infrastruktur AI secara signifikan pada 2030. Proyek Shanghai Lingang menghabiskan investasi sebesar 1,6 miliar yuan atau sekitar Rp4,25 triliun dengan kurs Rp2.657 per yuan.

Di sisi lain, para ahli mengingatkan bahwa pusat data bawah laut tetap memiliki risiko terhadap ekosistem laut, seperti gangguan sedimen dan peningkatan suhu air di sekitar fasilitas. Namun, ahli biologi kelautan Bournemouth University, Prof. Rick Stafford, menilai dampaknya dapat dikendalikan. Ia menyatakan bahwa pusat data bawah laut kemungkinan merupakan gagasan yang baik, meskipun pendinginan menggunakan air laut akan menimbulkan kenaikan suhu lokal, dampaknya tidak akan menjalar jauh.

Penilaian ini menunjukkan bahwa perlombaan AI global kini bergerak menuju pencarian keseimbangan baru antara kebutuhan komputasi, ketahanan energi, dan keberlanjutan lingkungan.

Suka dengan postingan berjudul Tiongkok meluncurkan pusat data bawah laut pertama berbasis angin, awal baru infrastruktur AI global? Nggak ada salahnya untuk berlangganan update postingan terbaru dari Blog of Bang Hendra | All About Anything langsung via email sekarang juga. GRATISS!!!

0 Response to "Tiongkok meluncurkan pusat data bawah laut pertama berbasis angin, awal baru infrastruktur AI global"

Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!

Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.

Chat Room

Kamu bisa chat bareng Admin di sini dengan Messenger.
Terima kasih

Chat on Messenger