83 Persen Fintech Indonesia Manfaatkan AI, Kekurangan Ahli Data Terus Berlanjut

Pemanfaatan Kecerdasan Buatan di Industri Fintech Indonesia

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di industri fintech Indonesia semakin meluas. Hasil Annual Members Survey (AMS) 2025-2026 Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menunjukkan bahwa sebanyak 83 persen perusahaan fintech telah menggunakan atau menguji coba AI dalam operasionalnya. Penggunaan AI mencakup berbagai aspek, mulai dari analitik data, layanan pelanggan, otomatisasi proses, deteksi fraud, hingga penilaian kredit dan manajemen risiko.

Di balik pesatnya adopsi teknologi tersebut, industri masih menghadapi tantangan besar dalam penyediaan sumber daya manusia. Sebanyak 48 persen responden menyebut talenta di bidang data, AI, dan analitik sebagai kategori tenaga kerja yang paling sulit direkrut.

Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto menjelaskan bahwa AMS 2025-2026 juga menunjukkan penguatan dari sisi bisnis, tata kelola, dan kesiapan teknologi. Sebanyak 43 persen responden telah membukukan laba, sementara 81 persen telah menjalin kemitraan aktif dengan pelaku ekosistem lain. Selain itu, 86 persen responden menilai kerangka regulasi saat ini mendukung inovasi, dan 81 persen menilai regulasi mendukung pertumbuhan industri.

“Data AMS memperlihatkan bahwa industri tidak hanya tumbuh lebih besar, tetapi juga semakin siap, tertata, dan bertanggung jawab. Ini terlihat dari profitabilitas yang mulai menguat, kolaborasi ekosistem yang semakin luas, serta persepsi positif terhadap arah regulasi,” ujar Firlie di Jakarta.

Inklusi dan Keberlanjutan dalam Industri Fintech

Pada aspek inklusi dan keberlanjutan, 50 persen responden menyatakan produk atau layanannya dirancang untuk menjangkau masyarakat unbanked maupun underserved, 81 persen menjalankan program literasi keuangan, dan 56 persen telah memiliki atau sedang mengembangkan program ESG.

Sementara itu, Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir mengatakan hasil AMS tahun ini menegaskan bahwa ukuran daya saing industri fintech semakin berkembang seiring meningkatnya kematangan industri.

“Industri fintech Indonesia sedang memasuki fase pendewasaan. Daya saing ke depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat perusahaan tumbuh, tetapi oleh seberapa kuat fundamental bisnisnya, seberapa konsisten regulasi dapat diimplementasikan, seberapa besar kepercayaan digital yang bisa dibangun, serta seberapa nyata dampaknya bagi masyarakat dan perekonomian,” ujar Pandu.

Lima Transisi Struktural yang Membentuk Arah Perkembangan

Menurut AFTECH, terdapat lima transisi struktural yang akan membentuk arah perkembangan industri fintech Indonesia ke depan:

  1. Dari pertumbuhan menuju penguatan fundamental bisnis
    Setelah periode ekspansi yang kuat, profitabilitas, efisiensi, dan kualitas model bisnis menjadi ukuran keberhasilan yang semakin tercermin. Hal ini terlihat dari 77 persen responden yang menjadikan kemitraan strategis sebagai strategi pertumbuhan utama, sementara 97 persen tidak mengubah model bisnisnya dalam satu tahun terakhir.

  2. Dari regulasi menuju kepastian implementasi
    Seiring kerangka regulasi semakin berkembang, kebutuhan industri bergeser pada konsistensi, harmonisasi, dan kepastian penerapan. Sebanyak 84 persen responden menempatkan kepastian dan stabilitas regulasi sebagai dukungan pemerintah yang paling dibutuhkan.

  3. Dari infrastruktur digital menjadi kepercayaan digital
    Infrastruktur tidak lagi hanya dibutuhkan untuk mempercepat konektivitas dan transaksi, tetapi juga untuk membangun keamanan dan kepercayaan. Sebanyak 53 persen responden menempatkan penguatan identitas digital sebagai prioritas utama pengembangan infrastruktur.

  4. Dari adopsi teknologi menuju penguatan kapabilitas
    Ketika penggunaan teknologi semakin luas, tantangan berikutnya adalah memastikan kesiapan manusia dan organisasi mampu mengimbanginya.

  5. Dari inklusi menuju dampak yang lebih berkelanjutan
    Setelah perluasan akses menjadi agenda utama, tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat mampu memahami, menggunakan, dan memperoleh manfaat nyata dari layanan keuangan digital. Hal ini tercermin dari 71 persen responden yang menilai literasi keuangan sebagai hambatan utama dalam memperluas inklusi.

Kolaborasi untuk Pertumbuhan yang Sehat dan Berkelanjutan

“Lima transisi ini menunjukkan bahwa fintech semakin menjadi bagian penting dari arsitektur ekonomi digital Indonesia. Karena itu, kolaborasi antara industri, regulator, pemerintah, lembaga keuangan, penyedia teknologi, dan institusi pendidikan menjadi semakin penting untuk memastikan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,” tambah Pandu.

Melalui AMS 2025–2026, AFTECH menegaskan komitmennya untuk terus mendorong industri keuangan digital yang inovatif, aman, inklusif, dan bertanggung jawab. Dengan fondasi yang semakin matang, industri fintech Indonesia diharapkan dapat memperluas akses keuangan, memperkuat kepercayaan publik, dan memberikan kontribusi lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Suka dengan postingan berjudul 83 Persen Fintech Indonesia Manfaatkan AI, Kekurangan Ahli Data Terus Berlanjut? Nggak ada salahnya untuk berlangganan update postingan terbaru dari Blog of Bang Hendra | All About Anything langsung via email sekarang juga. GRATISS!!!

0 Response to "83 Persen Fintech Indonesia Manfaatkan AI, Kekurangan Ahli Data Terus Berlanjut"

Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!

Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.

Chat Room

Kamu bisa chat bareng Admin di sini dengan Messenger.
Terima kasih

Chat on Messenger