UMKM Puncak Tampil di TIFA 2026, Perkenalkan Kerajinan Lokal

UMKM Puncak Tampil di TIFA 2026, Perkenalkan Kerajinan Lokal

Memperkenalkan Kerajinan Khas Puncak di TIFA 2026

Dalam ajang Timika Inside Festival of Art (TIFA) 2026 yang digelar di halaman Gedung Eme Neme Yauware, Jalan Budi Utomo, Kabupaten Mimika, berbagai produk kerajinan tangan dan pangan lokal dari kabupaten di Papua Tengah dipamerkan. Salah satu stan yang menarik perhatian adalah stan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Puncak.

Stan ini menampilkan beragam kerajinan khas hasil karya mama-mama asli Puncak. Produk-produk yang ditampilkan mencakup noken, dompet kulit kayu, aksesori berbahan limbah buah merah, bunga anggrek, dan padi belantara. Semua produk ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan menunjukkan kekayaan budaya serta kreativitas masyarakat setempat.

Sekretaris Dekranasda Kabupaten Puncak, Vincef Fonde Manggo, menjelaskan bahwa Dekranasda Puncak baru dilantik pada 6 Desember 2025, sehingga usianya hanya sekitar tujuh bulan. Meskipun usianya masih muda, ia bersyukur bisa hadir dalam TIFA 2026 untuk memperkenalkan hasil karya mama-mama di Kabupaten Puncak.

Beragam Produk yang Dipamerkan

Beberapa produk yang dipamerkan antara lain tempat tisu, bros, dompet dari kulit kayu, noken, kalung, hingga mahkota khas Papua. Menurut Vincef, salah satu produk paling unik dibuat dari limbah buah merah yang biasanya dibuang. Melalui proses pengeringan, pewarnaan, dan pengolahan cukup panjang, limbah tersebut diubah menjadi berbagai aksesori bernilai ekonomi.

"Kami ingin menunjukkan bahwa bahan yang dianggap sampah bisa menjadi produk bernilai jual tinggi apabila diolah dengan baik," katanya.

Selain itu, terdapat pula aksesori yang dibuat dari bunga anggrek hutan dan padi belantara yang tumbuh di kawasan pegunungan Kabupaten Puncak. Proses pembuatan kerajinan tersebut membutuhkan waktu cukup lama karena bahan baku harus dicari langsung di hutan, kemudian dijemur, direbus, dikeringkan kembali, hingga siap dirangkai menjadi produk.

"Kalau bahan anggrek harus melalui beberapa tahapan. Setelah dijemur, direbus, lalu dijemur lagi sehingga hasilnya bisa bertahan sampai puluhan tahun," jelasnya.

Keunikan Teknik Merajut Noken

Vincef mengungkapkan bahwa setiap daerah di Papua memiliki teknik merajut noken yang berbeda, termasuk Kabupaten Puncak memiliki ciri khas tersendiri. Noken yang dipamerkan memiliki harga yang bervariasi, mulai dari kalung taring babi Rp300 ribu hingga Rp500 ribu, aksesori bunga anggrek sekitar Rp50 ribu, dompet dari kulit kayu mencapai Rp4 juta, sementara mahkota cenderawasih dibanderol sekitar Rp5 juta.

Untuk noken, harganya disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya, mulai dari jutaan rupiah hingga sekitar Rp8 juta untuk ukuran besar.

Harapan Masa Depan

Ia berharap keikutsertaan Dekranasda Kabupaten Puncak dalam TIFA 2026 dapat memperkenalkan kekayaan budaya daerah sekaligus membuka peluang pemasaran bagi hasil karya mama-mama Papua. "Masih banyak produk yang belum sempat kami tampilkan. Mudah-mudahan pada kegiatan berikutnya kami bisa membawa lebih banyak lagi hasil kerajinan khas Kabupaten Puncak," pungkasnya.



Suka dengan postingan berjudul UMKM Puncak Tampil di TIFA 2026, Perkenalkan Kerajinan Lokal? Nggak ada salahnya untuk berlangganan update postingan terbaru dari Blog of Bang Hendra | All About Anything langsung via email sekarang juga. GRATISS!!!

0 Response to "UMKM Puncak Tampil di TIFA 2026, Perkenalkan Kerajinan Lokal"

Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!

Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.

Chat Room

Kamu bisa chat bareng Admin di sini dengan Messenger.
Terima kasih

Chat on Messenger