Dating apps seperti Tinder, Bumble, Hinge, dan berbagai aplikasi kencan lainnya pada dasarnya adalah ruang tempat orang membuat keputusan dalam waktu yang sangat singkat. Seseorang mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk melihat foto, membaca bio, lalu menentukan apakah profilmu menarik untuk diberi kesempatan atau dilewati.
Karena itu, mendapatkan banyak match bukan hanya persoalan apakah kamu “ganteng” atau “cantik”. Ada banyak faktor psikologis yang memengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan profilmu: bagaimana kamu menampilkan diri, kesan pertama yang muncul, seberapa mudah orang memahami kepribadianmu, hingga apakah profilmu memberikan alasan bagi orang lain untuk memulai percakapan.
Menariknya, beberapa orang yang secara fisik biasa saja bisa mendapatkan banyak respons, sementara orang yang secara konvensional sangat menarik justru memiliki sedikit match.
Mengapa?
Karena daya tarik dalam konteks dating apps bukan sekadar penampilan. Daya tarik adalah gabungan antara visual, persepsi kepribadian, kejelasan identitas, rasa aman, dan rasa penasaran.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (9/9), kalau kamu ingin meningkatkan peluang mendapatkan lebih banyak match, berikut tujuh hal yang bisa kamu perbaiki berdasarkan prinsip-prinsip psikologi sosial dan perilaku manusia.
1. Tingkatkan Kualitas Foto, Bukan Sekadar Ketampanan atau Kecantikan
Mari mulai dari faktor yang paling terlihat.
Di dating apps, foto adalah pintu pertama.
Sebelum seseorang membaca bio, mengetahui pekerjaanmu, mendengar selera musikmu, atau mengetahui bahwa kamu sebenarnya orang yang sangat menyenangkan, mereka terlebih dahulu melihat representasi visual yang kamu tampilkan.
Artinya, foto memiliki fungsi lebih besar daripada sekadar menunjukkan wajah.
Foto sebenarnya sedang menjawab pertanyaan:
“Orang seperti apa kamu?”
Masalahnya, banyak orang menggunakan foto yang secara teknis bagus tetapi secara psikologis tidak memberikan informasi yang cukup.
Misalnya:
semua foto menggunakan ekspresi yang sama,
hanya menggunakan selfie,
wajah terlalu jauh,
foto terlalu gelap,
menggunakan filter berlebihan,
seluruh foto memakai kacamata hitam,
foto pertama adalah foto bersama teman,
atau menggunakan foto lama yang sudah tidak merepresentasikan penampilan sekarang.
Foto yang baik seharusnya membuat orang lain mendapatkan gambaran yang cukup jelas mengenai dirimu.
Foto pertama harus mudah dikenali
Secara psikologis, manusia membutuhkan waktu dan usaha untuk memproses informasi.
Jika foto pertama terlalu kompleks, orang harus bekerja lebih keras untuk menjawab pertanyaan sederhana:
“Yang mana orangnya?”
Karena itu, foto utama sebaiknya relatif sederhana.
Wajah terlihat jelas. Pencahayaan cukup. Tidak terlalu banyak objek yang mengganggu. Dan yang paling penting, foto tersebut benar-benar merepresentasikan dirimu.
Bukan berarti harus menggunakan foto formal seperti foto KTP.
Justru foto yang natural sering kali lebih menarik karena memberikan konteks sosial dan emosional.
Misalnya, foto sedang tersenyum ketika berada di tempat yang menarik dapat menyampaikan lebih banyak informasi dibandingkan selfie dengan ekspresi datar.
Gunakan beberapa foto yang memiliki fungsi berbeda
Jangan membuat enam foto yang semuanya mengatakan hal yang sama.
Idealnya, setiap foto memberikan potongan informasi berbeda.
Misalnya:
Foto 1: wajah terlihat jelas.
Foto 2: aktivitas atau hobi.
Foto 3: berpakaian lebih rapi.
Foto 4: aktivitas sosial.
Foto 5: sesuatu yang menunjukkan gaya hidup atau kepribadian.
Dengan demikian, orang tidak hanya melihat wajahmu.
Mereka mulai membentuk gambaran mental mengenai kehidupanmu.
Dan inilah yang penting.
Dating apps bukan hanya tentang:
“Apakah orang ini menarik?”
Tetapi juga:
“Seperti apa rasanya kalau saya mengenal orang ini?”
Foto yang baik membantu seseorang membayangkan jawabannya.
2. Tingkatkan "Signal" Kepribadian dalam Profilmu
Salah satu kesalahan terbesar dalam membuat profil dating apps adalah menulis bio yang terlalu umum.
Contohnya:
“Suka traveling, makan, nonton film, dan menikmati hidup.”
Masalahnya bukan kalimat tersebut salah.
Masalahnya adalah terlalu banyak orang bisa mengatakan hal yang sama.
Dalam psikologi sosial, orang terus-menerus mencoba memahami kepribadian orang lain berdasarkan informasi yang terbatas.
Dalam dating apps, proses tersebut menjadi semakin ekstrem karena informasi yang tersedia memang sangat sedikit.
Karena itu, profil yang bagus harus memberikan personality signals.
Dengan kata lain, profilmu harus membantu orang menyimpulkan:
“Oh, dia tipe orang seperti ini.”
Bandingkan:
“Suka traveling.”
dengan:
“Tahun ini targetnya mengunjungi tiga kota baru. Tapi biasanya ujung-ujungnya malah mencari tempat makan lokal.”
Kalimat kedua jauh lebih informatif.
Bukan karena lebih panjang.
Tetapi karena memberikan gambaran mengenai kepribadian.
Orang bisa membayangkan kamu sebagai seseorang yang suka eksplorasi, menikmati makanan, dan tidak terlalu kaku dengan rencana.
Hindari mencoba terlihat sempurna
Ironisnya, profil yang terlalu sempurna bisa terasa kurang menarik.
Mengapa?
Karena manusia cenderung lebih mudah terhubung dengan sesuatu yang terasa nyata.
Jika profilmu hanya berisi:
sukses,
traveling,
olahraga,
pekerjaan keren,
foto bagus,
dan kehidupan yang terlihat sempurna,
orang mungkin mendapatkan kesan bahwa kamu menarik.
Tetapi belum tentu mendapatkan alasan untuk berinteraksi.
Sedikit keunikan justru dapat membuatmu lebih memorable.
Misalnya:
“Kelihatannya orangnya kalem. Tapi kalau sudah menemukan restoran enak, bisa berubah jadi food critic dadakan.”
Humor kecil seperti ini memberi sesuatu yang bisa direspons.
Dan itu sangat penting.
Profil yang bagus bukan hanya membuat orang tertarik. Profil yang bagus memberi orang bahan untuk membuka percakapan.
3. Tingkatkan First Impression dengan Memahami Efek Kesan Pertama
Dalam interaksi sosial, kesan pertama memiliki peranan besar.
Dating apps memperkuat efek tersebut karena keputusan dibuat dengan informasi yang sangat terbatas.
Dalam beberapa detik, seseorang bisa membentuk kesimpulan awal seperti:
terlihat ramah,
terlihat percaya diri,
terlihat serius,
terlihat menyenangkan,
terlihat sulit didekati,
terlihat terlalu narsis,
atau terlihat membosankan.
Tentu saja kesimpulan tersebut belum tentu benar.
Tetapi itulah masalahnya.
Orang tidak menilai versi asli dirimu. Mereka menilai informasi yang kamu berikan kepada mereka.
Karena itu, kamu perlu memperhatikan sinyal nonverbal.
Ekspresi wajah
Ekspresi wajah memberikan informasi emosional yang sangat cepat.
Foto dengan ekspresi terlalu serius mungkin terlihat maskulin atau elegan bagi sebagian orang, tetapi bagi orang lain bisa terlihat dingin atau tidak approachable.
Sebaliknya, senyum yang natural dapat membuat seseorang terlihat lebih mudah didekati.
Bukan berarti setiap foto harus tersenyum lebar.
Yang penting adalah menunjukkan variasi ekspresi yang terasa natural.
Bahasa tubuh
Postur juga dapat memengaruhi persepsi.
Foto dengan postur terbuka biasanya lebih mudah memberikan kesan percaya diri dibandingkan foto dengan tubuh terlalu tertutup atau terlihat gugup.
Namun, ada perbedaan antara percaya diri dan berusaha terlihat dominan.
Jika semua foto dibuat dengan pose yang sangat agresif, pamer fisik, atau menunjukkan status secara berlebihan, sebagian orang justru bisa merasa tidak nyaman.
Tujuannya bukan terlihat paling superior.
Tujuannya adalah terlihat nyaman dengan diri sendiri.
4. Tingkatkan Self-Confidence, Tetapi Jangan Berubah Menjadi Self-Absorption
Ini adalah salah satu bagian paling penting.
Banyak orang berpikir:
“Kalau mau banyak match, saya harus terlihat sangat percaya diri.”
Benar.
Tetapi ada perbedaan antara percaya diri dan terobsesi menunjukkan diri sendiri.
Confidence biasanya terasa seperti:
“Saya tahu siapa diri saya dan saya nyaman dengan itu.”
Sedangkan insecurity yang disamarkan sebagai confidence bisa terlihat seperti:
“Saya harus terus membuktikan kepada orang lain bahwa saya keren.”
Perbedaannya cukup halus.
Misalnya, seseorang memasang banyak foto mobil mahal, jam mahal, restoran mahal, gym, dan tempat eksklusif.
Tujuannya mungkin untuk menunjukkan keberhasilan.
Tetapi orang lain bisa menginterpretasikannya sebagai kebutuhan akan validasi.
Tentu tidak selalu demikian. Konteks sangat penting.
Tetapi secara psikologis, sinyal status tidak otomatis menghasilkan daya tarik.
Status dapat menarik perhatian, tetapi kehangatan dan kepribadian membantu membangun koneksi.
Karena itu, kalau kamu ingin terlihat percaya diri, jangan terlalu sibuk membuktikan bahwa kamu bernilai.
Biarkan profilmu menunjukkan kehidupanmu secara natural.
Misalnya:
“Saya suka olahraga.”
lebih sederhana daripada:
“Saya disiplin, selalu menjaga tubuh, dan tidak seperti kebanyakan orang yang malas.”
Yang pertama menunjukkan sesuatu.
Yang kedua mencoba membandingkan diri dengan orang lain.
Dan perbedaan kecil seperti ini dapat mengubah persepsi secara signifikan.
5. Tingkatkan Kemampuan Membuat Orang Merasa Aman dan Nyaman
Ini sering dilupakan ketika orang membicarakan dating apps.
Kebanyakan pembahasan hanya fokus pada:
“Bagaimana supaya saya terlihat menarik?”
Padahal ada pertanyaan lain yang sama pentingnya:
“Apakah orang lain merasa nyaman berinteraksi dengan saya?”
Dalam konteks dating, rasa aman merupakan faktor yang sangat penting.
Terutama karena dating apps mempertemukan dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.
Profil yang terlalu seksual, agresif, merendahkan orang lain, atau penuh keluhan dapat menjadi red flag bagi sebagian orang.
Contohnya:
“No drama.”
“Jangan match kalau cuma cari perhatian.”
“Kalau chat lama, langsung unmatch.”
“Saya benci cewek/cowok yang…”
Mungkin kalimat tersebut dibuat karena pengalaman buruk.
Tetapi orang baru yang melihat profilmu tidak mengetahui cerita di belakangnya.
Mereka hanya melihat sinyal yang muncul.
Dan sinyal tersebut bisa terbaca sebagai:
“Orang ini mungkin sulit diajak berinteraksi.”
Tunjukkan standar tanpa menunjukkan permusuhan
Kamu tetap boleh memiliki standar.
Tetapi ada cara yang lebih menarik untuk menyampaikannya.
Daripada:
“Jangan toxic.”
kamu bisa menunjukkan:
“Saya lebih cocok dengan orang yang komunikatif dan punya sense of humor.”
Pesannya tetap ada.
Tetapi terasa lebih positif.
Ini penting karena orang biasanya tidak hanya memilih pasangan berdasarkan kualitas yang mereka inginkan.
Mereka juga mempertimbangkan:
“Apakah saya ingin berada di sekitar orang ini?”
6. Tingkatkan Kemampuan Memulai dan Mempertahankan Percakapan
Mendapatkan match sebenarnya baru tahap pertama.
Banyak orang berhasil mendapatkan match tetapi kemudian gagal mengubah match tersebut menjadi percakapan yang menarik.
Kesalahan paling umum adalah:
“Hai.”
“Lagi apa?”
“Sudah makan?”
Pertanyaan tersebut tidak salah.
Tetapi terlalu mudah menghasilkan percakapan yang datar.
Bayangkan seseorang mendapatkan sepuluh match dan delapan orang mengirim:
“Hai.”
Tidak ada alasan kuat untuk membedakan satu percakapan dari yang lain.
Gunakan informasi dari profil
Misalnya bio seseorang mengatakan:
“Weekend biasanya mencari coffee shop baru.”
Daripada:
“Suka kopi?”
cobalah sesuatu seperti:
“Kalau harus memilih satu: coffee shop yang kopinya luar biasa tapi tempatnya biasa saja, atau tempatnya estetik tapi kopinya cuma lumayan?”
Pertanyaan seperti ini lebih menarik karena memberikan pilihan, opini, dan peluang untuk bercanda.
Yang paling penting, jangan membuat percakapan terasa seperti wawancara kerja.
Dating conversation seharusnya memiliki reciprocity.
Kamu bertanya.
Dia menjawab.
Kamu merespons jawabannya.
Lalu kamu memberikan sedikit informasi mengenai dirimu.
Kemudian percakapan berkembang.
Contoh:
“Kamu suka hiking?”
Dia:
“Iya, tapi masih beginner.”
Daripada langsung:
“Sudah naik gunung apa saja?”
Kamu bisa mengatakan:
“Sama. Saya juga pernah punya ambisi jadi anak gunung sampai sadar bahwa tanjakan kedua sudah cukup untuk membuat saya mempertanyakan hidup.”
Lalu baru bertanya:
“Biasanya hiking di mana?”
Sekarang percakapannya memiliki humor, self-disclosure, dan pertanyaan.
Lebih natural.
7. Tingkatkan Cara Memilih Target, Bukan Hanya Mengejar Jumlah Match
Ini mungkin terdengar bertentangan dengan judul artikel.
Kalau ingin banyak match, bukankah seharusnya kita membuat profil yang disukai sebanyak mungkin orang?
Tidak selalu.
Karena ada perbedaan antara:
banyak match dan banyak match yang relevan.
Jika kamu mencoba membuat profil yang disukai semua orang, hasil akhirnya sering menjadi profil yang generik.
Padahal salah satu kekuatan terbesar dalam dating apps adalah specificity.
Misalnya:
“Suka traveling.”
sangat umum.
Tetapi:
“Lebih memilih road trip spontan daripada itinerary yang sudah dibuat enam bulan sebelumnya.”
lebih spesifik.
Orang yang tidak cocok mungkin tidak tertarik.
Tetapi orang yang memiliki preferensi serupa justru bisa merasa:
“Nah, ini menarik.”
Inilah salah satu prinsip penting dalam attraction:
Kesamaan tertentu dapat menjadi dasar koneksi.
Bukan berarti kamu harus berpura-pura memiliki hobi yang sama dengan orang lain.
Justru sebaliknya.
Semakin jujur kamu menunjukkan apa yang kamu sukai, semakin mudah orang yang cocok menemukanmu.
Jangan mengejar semua orang
Ada kecenderungan ketika seseorang mendapatkan sedikit match untuk berpikir:
“Saya harus mengubah diri supaya disukai lebih banyak orang.”
Padahal mungkin masalahnya bukan kamu.
Bisa jadi positioning profilmu tidak jelas.
Jika kamu ingin hubungan serius, misalnya, profil yang terlalu ambigu dapat menarik orang dengan tujuan yang berbeda.
Jika kamu hanya ingin memperluas koneksi, pendekatannya juga berbeda.
Karena itu, pertanyaan yang lebih baik bukan:
“Bagaimana supaya semua orang menyukai saya?”
Tetapi:
“Bagaimana supaya orang yang kemungkinan cocok dengan saya bisa melihat nilai saya dengan cepat?”
Perubahan pola pikir ini sangat penting.
Bonus: Jangan Lupakan Faktor Algoritma
Ada satu hal yang perlu diingat.
Dating apps bukan sekadar sistem sosial.
Mereka juga merupakan sistem digital dengan algoritma.
Artinya, jumlah match tidak sepenuhnya ditentukan oleh psikologi manusia.
Platform dapat menggunakan berbagai mekanisme seperti aktivitas pengguna, interaksi, preferensi, lokasi, dan faktor lain yang berbeda-beda pada masing-masing aplikasi.
Karena itu, jangan langsung menyimpulkan:
“Saya tidak menarik karena match saya sedikit.”
Itu adalah kesimpulan yang terlalu sederhana.
Jumlah match merupakan hasil dari banyak variabel.
Mulai dari kualitas foto, profil, preferensi orang lain, lokasi, usia, jumlah pengguna di area tersebut, perilaku penggunaan aplikasi, sampai mekanisme platform.
Dengan kata lain:
Dating app bukan alat pengukur nilai diri.
Ia hanyalah sebuah sistem pencocokan yang tidak sempurna.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Membuat Profil Menarik?
Jika seluruh artikel ini diringkas, profil yang kuat biasanya memiliki beberapa karakteristik:
1. Mudah dipahami
Orang langsung tahu siapa kamu.
2. Terlihat autentik
Foto dan informasi terasa seperti representasi kehidupan nyata, bukan persona yang dibuat-buat.
3. Memiliki personality
Orang mendapatkan gambaran tentang bagaimana rasanya berbicara denganmu.
4. Memiliki social warmth
Kamu terlihat sebagai orang yang menyenangkan dan mudah didekati.
5. Memberikan conversational hooks
Ada sesuatu yang bisa digunakan orang lain untuk memulai percakapan.
6. Tidak terlalu membutuhkan validasi
Kamu menunjukkan kualitas tanpa terlihat memohon pengakuan.
7. Spesifik
Profilmu tidak terasa seperti template yang bisa digunakan oleh jutaan orang.
Kesimpulan: Jangan Berusaha Terlihat Menarik, Berusahalah Terlihat Jelas
Salah satu kesalahan terbesar ketika menggunakan dating apps adalah terlalu fokus pada pertanyaan:
“Bagaimana supaya saya terlihat lebih menarik?”
Pertanyaan yang lebih berguna sebenarnya adalah:
“Apa yang orang lain bisa pahami tentang saya dalam 10 detik pertama?”
Karena daya tarik tidak hanya muncul dari wajah.
Daya tarik juga muncul dari informasi.
Seseorang bisa tertarik karena wajahmu, tetapi kemudian memutuskan untuk match karena kepribadian yang mereka tangkap dari profilmu.
Mereka bisa menyukai fotomu, tetapi akhirnya mengirim pesan karena menemukan sesuatu yang menarik di bio.
Mereka bisa tertarik pada profilmu, tetapi kemudian memutuskan melanjutkan percakapan karena merasa kamu ramah dan nyaman diajak berbicara.
Jadi, jika ingin meningkatkan jumlah match, jangan hanya mengubah satu hal.
Bangun sebuah profil yang secara keseluruhan memberikan sinyal yang konsisten:
“Ini saya. Saya nyaman dengan diri saya. Saya punya kehidupan, kepribadian, dan sesuatu yang menarik untuk dibagikan.”
Dan mungkin yang paling penting:
Jangan mengukur harga dirimu berdasarkan swipe seseorang.
Dating apps bekerja dengan probabilitas.
Tidak semua orang akan menyukaimu.
Tidak perlu.
Tujuan akhirnya bukan membuat semua orang tertarik.
Tujuan akhirnya adalah membuat orang yang tepat cukup tertarik untuk berkata:
“Orang ini sepertinya menarik. Saya ingin mengenalnya lebih jauh.”
Itulah titik ketika dating app berhenti menjadi sekadar permainan swipe dan mulai menjadi alat untuk menciptakan koneksi yang nyata.***

0 Response to "7 hal yang perlu ditingkatkan agar mendapat banyak match di dating apps menurut psikologi"
Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!
Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.