- Pengguna internet di Indonesia kini telah mencapai 80,6 persen dari total populasi. Besarnya tingkat penetrasi tersebut dinilai dapat menjadi kekuatan bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam perkembangan ekosistem digital global.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan tingginya jumlah pengguna internet seharusnya tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar bagi perusahaan teknologi dan platform dari luar negeri. Menurutnya, potensi pasar domestik perlu diarahkan agar Indonesia mampu tampil sebagai salah satu pemain penting di sektor digital.
“Dengan jumlah ini kita punya market power luar biasa. Jangan hanya berhenti pada market power. Kita harus bisa menjadi pemain yang signifikan dalam ekosistem digital yang sedang bertumbuh cukup dahsyat,” ujar Wamen Nezar saat menghadiri peringatan 20 tahun Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) di Jakarta Selatan, dikutip Kamis (4/9).
Nezar menilai salah satu cara memperkuat posisi Indonesia di dunia maya adalah dengan mendorong pemanfaatan identitas digital nasional melalui domain .id.
Data PANDI menunjukkan penggunaan domain .id terus berkembang dan saat ini telah mencapai sekitar 1,5 juta domain.
Melihat perkembangan tersebut, pemerintah mendorong kolaborasi dengan PANDI dan pelaku industri untuk meningkatkan pemakaian domain .id di berbagai sektor, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), lembaga pendidikan, hingga penyelenggara layanan publik.
Menurut Nezar, semakin luas penggunaan domain .id akan membuat berbagai aktivitas ekonomi maupun layanan yang berasal dari Indonesia memiliki identitas yang lebih jelas di internet.
“Pemerintah bersama PANDI dan industri perlu memperluas adopsi domain .id bagi UMKM, institusi pendidikan, hingga layanan publik,” kata Wamen Nezar.
Tidak hanya berfungsi sebagai identitas digital, Nezar memandang domain .id juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan keragaman bahasa dan budaya Indonesia di ruang internet.
Ia menyebut penggunaan bahasa serta aksara daerah dalam domain .id sudah mulai diterapkan. Salah satunya adalah aksara dan bahasa Bali yang kini telah dapat digunakan dalam penamaan domain.
“Domain .id ini bukan cuma dua huruf, ID. Di belakang itu adalah simbol dan kekayaan culture, knowledge, dan wisdom Nusantara,” ujarnya.
Menurutnya, upaya menghadirkan bahasa dan aksara Nusantara di ruang digital menjadi semakin relevan seiring internet yang membuat generasi muda lebih mudah berinteraksi dengan berbagai budaya dari luar negeri.
“Kita punya begitu banyak bahasa, tetapi generasi muda kita malah tidak kenal,” katanya.
Di sisi lain, pertumbuhan ekosistem domain .id juga harus diikuti dengan penguatan aspek keamanan. Nezar meminta prinsip keamanan tidak ditempatkan sebagai langkah tambahan setelah sebuah layanan selesai dibuat, melainkan sudah diperhitungkan sejak awal pengembangannya.
Ia menyoroti sejumlah potensi penyalahgunaan yang perlu diantisipasi, mulai dari penipuan digital, penyebaran konten berbahaya, eksploitasi anak, hingga praktik pengumpulan data yang tidak sesuai dengan aturan.
“Keamanan dan kepercayaan harus dibangun sejak tahap perencanaan,” ujar Wamen Nezar.
Untuk memperkuat upaya tersebut, Nezar mendorong PANDI memperluas pertukaran data dan koordinasi dengan registry, registrar, penyedia jasa internet, lembaga keamanan siber, serta tim respons insiden. Langkah tersebut dinilai penting untuk mempercepat identifikasi sekaligus penanganan apabila terjadi penyalahgunaan domain.
Nezar juga mengingatkan agar perkembangan domain .id tetap mengedepankan prinsip keterbukaan dan akses yang merata. Menurutnya, layanan tersebut harus dapat digunakan secara inklusif, saling terhubung, serta tetap terjangkau bagi masyarakat.
Selain itu, kesiapan terhadap universal acceptance menjadi bagian penting agar domain yang menggunakan berbagai bahasa dan aksara dapat diakses serta dimanfaatkan secara luas tanpa kendala kompatibilitas.
Memasuki dua dekade pengelolaan domain Indonesia, Nezar menilai keberhasilan PANDI tidak semestinya hanya diukur dari pertumbuhan jumlah domain .id yang terdaftar.
Ia berharap domain .id ke depan semakin melekat dengan berbagai aktivitas masyarakat Indonesia di ruang digital, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian penting dari ekosistem digital global.

0 Response to "Komdigi: 80,6 Persen Indonesia Online, Saatnya jadi Pemain Digital Besar"
Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!
Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.