
Perkembangan Kebutuhan Tenaga Kerja di Sektor Aviasi
Kebutuhan tenaga kerja di sektor aviasi terus berkembang, tidak hanya untuk posisi konvensional tetapi juga untuk bidang-bidang yang lebih kompleks. Salah satu contohnya adalah bidang keamanan (security) yang kini memiliki peran jauh lebih luas dan memerlukan kompetensi tinggi.
Direktur Utama PT Garuda Daya Pratama Sejahtera (GDPS), Cornelis Radjawane, mengungkapkan bahwa inovasi, permintaan layanan, serta kemajuan teknologi telah mendorong perubahan dalam struktur tenaga kerja aviasi. Ia menekankan bahwa kompetensi tenaga kerja saat ini tidak lagi sebatas tugas-tugas konvensional.
Peran Security yang Semakin Kompleks
Menurut Cornelis, peran security sekarang tidak hanya sebatas menjaga keamanan. Mereka juga bertanggung jawab atas pengiriman barang kepada pelanggan sesuai dengan permintaan. Contohnya, pada lini bisnis katering penerbangan, petugas keamanan memastikan jumlah makanan dan minuman sesuai permintaan maskapai sebelum pesawat dilayani.
"Jadi yang core-nya itu selain tukang masak di belakang, ini juga yang memastikan bahwa ini airline A meminta 10 meal, 5 minuman, 10 ini. Itu yang memastikan bahwa terakhir adalah security," ujar Cornelis.
Peran ini menuntut ketelitian tinggi dan pemahaman prosedur yang detail. "Security bukan lagi seperti yang kita dulu lihat ya. Mengalahkan keadaannya tapi sudah jauh lebih canggih. Itu kompetensi-kompetensi yang berkembang ketika saat ini," tambahnya.
Kebutuhan Tenaga di Sektor Layanan Penumpang
Selain bidang keamanan, GDPS masih membutuhkan tenaga di sektor layanan penumpang seperti ticketing, ground handling, dan customer service. Meskipun teknologi berkembang, Cornelis menilai tidak semua pekerjaan bisa digantikan mesin.
"Misalnya komplain. Nggak mau kan naik pesawat, di komplain, dijawab sama robot. Pasti kan maunya dijawab oleh manusia lagi. Itu juga merupakan salah satu jabatan yang kami isi," ujarnya.
Peluang Pekerjaan untuk Berbagai Latar Belakang Pendidikan
Dari sisi latar belakang pendidikan, GDPS membuka peluang luas, mulai dari lulusan SMA, D3 hingga S1. Perusahaan juga menyediakan pelatihan bagi tenaga kerja yang masih fresh graduate.
"Ada yang memang ketika di-hire masih fresh, kemudian mendapat training, kemudian masuk. Ada juga yang memang butuh kontroling yang panjang. Biasanya kalau kontroling yang panjang kami tidak sediakan karena itu cukup mahal biayanya. Karena orang mau cepat. Kami sediakan yang lebih praktis," tegas Cornelis.
Jumlah Tenaga Kerja dan Penyebaran Proyek
Saat ini, GDPS mengelola sekitar 6.500 tenaga kerja untuk 139–140 proyek, tersebar di 93 kota di Indonesia. Selain di dalam negeri, GDPS juga mulai menyalurkan tenaga kerja aviasi ke luar negeri.
Cornelis menyebut, sebagian dari tenaga kerja yakni tenaga ahli perawatan mesin pesawat telah dikirim ke Uni Emirat Arab (Dubai). Selain itu, GDPS juga mengirim engineer dan manajer ke Papua Nugini.
"Kami juga mengirim walaupun jumlahnya belum banyak untuk tenaga aviasi keluar. Kami sudah kirim ke UAE, ke Dubai untuk tenaga ahli di bidang perawatan engine pesawat. Kami sudah mengirim juga ke Papua New Guinea. Itu engineer dan manager. Kami sudah mengirim juga kami sudah mempersiapkan untuk mengirim ke Singapura, Korea," tutur dia.
Proses Penempatan Tenaga Kerja ke Luar Negeri
Terkait penempatan tenaga kerja ke luar negeri, Cornelis memastikan proses tersebut tetap mengikuti skema resmi, baik melalui P3MI, P2MI, maupun jalur mandiri sesuai ketentuan yang berlaku.
"Kan ada skemanya ya. Ada P3MI, ada P2MI, ada yang mandiri. Ada yang masing-masing," ungkap Cornelis.

0 Response to "GDPS ungkap lulusan paling diminati sektor aviasi 2026"
Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!
Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.