
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengungkapkan potensi groundbreaking atau peletakan batu pertama dalam pengembangan Green Data Center yang berbasis energi panas bumi. Proyek ini diharapkan menjadi langkah penting dalam mendukung transformasi digital Indonesia sambil tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.
Pada akhir Desember 2025, PGEO mengumumkan rencana untuk memperluas pemanfaatan energi panas bumi di luar sektor kelistrikan. Salah satu sektor yang menjadi fokus adalah Green Data Center, yang dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Untuk mewujudkan proyek ini, PGEO telah bekerja sama dengan dua lembaga utama, yaitu Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI). Kemitraan ini bertujuan untuk melakukan kajian mendalam terkait pengembangan Green Data Center.
Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, menegaskan bahwa energi panas bumi sebagai sumber energi baseload (beban dasar) memiliki keunggulan karena stabil dan dapat menyediakan pasokan listrik selama 24 jam. Hal ini sangat penting bagi operasional data center yang membutuhkan daya listrik yang konstan.
“Karena geothermal ini bisa menyuplai energi secara terus-menerus, kita bisa support kebutuhan listriknya,” ujar Ahmad Yani saat berkunjung ke kantor PGEO, Rabu (18/02/2026).
Selain itu, PGEO juga sedang menjajaki kerja sama dengan perusahaan asal Amerika Serikat, Microsoft. Proyek data center Microsoft di Indonesia saat ini sedang berjalan aktif, termasuk Indonesia Central Cloud Region yang meliputi proyek JKT09 di Karawang. Investasi Microsoft mencapai US$ 1,7 miliar (Rp 27 triliun) hingga 2028, yang akan mendukung ekosistem AI dan cloud.
“Kita sudah menjajaki semua pihak, termasuk IDPRO dan Microsoft. Kita juga sudah dipertemukan di Kementerian Investasi untuk membahas kerja sama dengan Microsoft. Mudah-mudahan ini menjadi jalan masuk ke sana,” tambah Ahmad Yani.
Ahmad Yani juga memastikan bahwa proyek Green Data Center ini akan segera memasuki tahap groundbreaking. “Kita sudah melakukan penjajagan, dan mulai ke arah sana,” katanya.
Penggunaan energi panas bumi di data center memiliki dampak positif pada emisi karbon. Dibandingkan dengan pusat data yang bergantung pada bahan bakar fosil, penggunaan energi panas bumi menghasilkan emisi yang sangat rendah atau bahkan nol. Hal ini membantu perusahaan mencapai target net-zero dan mengurangi jejak lingkungan.
“Kita mengajak semua pihak untuk bergabung, tapi kita juga harus membuktikan dengan proyek pilot. Seperti yang sedang berlangsung di Kamojang, kita coba lakukan baik dengan partner eksternal maupun internal,” jelas Ahmad Yani.
Tren kebutuhan data center di Indonesia saat ini sedang memasuki fase transformasi digital, yang memicu lonjakan permintaan akan pusat data. Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Digital, tren ini didorong oleh lebih dari 212 juta pengguna internet. Jumlah fasilitas data center diperkirakan akan terus meningkat hingga 2029–2030.
Berdasarkan proyeksi pertumbuhan konsumsi listrik industri, sekitar 26% peningkatan kebutuhan energi disebabkan oleh pertumbuhan data center. Kapasitas data center nasional diproyeksikan naik signifikan dari 520 megawatt (MW) pada 2025 menjadi 1,8 gigawatt (GW) pada 2030.
“Hal ini membuka peluang bagi PGEO untuk terlibat lebih jauh dalam sektor digital rendah karbon,” tutup Ahmad Yani.

0 Response to "PGEO Siap Luncurkan Pusat Data Hijau, Targetkan Microsoft"
Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!
Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.