Tantangan Pendidikan di Era Modern

Tantangan Pendidikan di Era Modern

Perubahan Perilaku Generasi Z dan Tantangan yang Dihadapi Guru

Sebuah video pendek memperliakan beberapa pelajar sedang berkonten ria di balik suasana ruangan kelas. Dalam balutan seragam sekolah, siswa-siswi itu bergaya dan menirukan gerakan yang kurang elok dipandang. Tampak luwes dan tak terkesan sungkan. Seolah yang dilakukan hanya hal ringan yang tak perlu diributkan.

Lain versi, pada sebuah tayangan ‘challenge’, sekelompok pelajar berseragam SMA kesulitan menjawab deretan pertanyaan yang diajukan bergiliran. Padahal, pertanyaannya masih seputar perkalian matematika sederhana yang terdiri atas angka satuan.

Keadaan tidak jauh berbeda ketika tantangan beralih ke nama-nama provinsi yang ada di Indonesia beserta ibu kotanya. Sebagian di antara peserta ‘challenge’ terbata-bata dan kebingungan memberi jawaban.

Kondisi di atas rasa-rasanya semakin banyak ditemui dalam realita kekinian dan umum dialami oleh para pendidik. Di zaman di mana dunia jadi sebatas genggaman tangan, menghadapi insan didik menjadi tidaklah mudah. Ketika arus informasi semakin terbuka oleh teknologi internet yang kian pesat, maka anak-anak sekarang pun ikut mengalami pola perilaku yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya.

Generasi penghuni masa kini atau akrab disebut Gen Z telah menghadirkan tantangan penuh warna, khususnya bagi kaum pendidik.

Beranjak dari polemik tersebut, reportase ini lahir mewakili keresahan, manakala melihat kecenderungan perilaku generasi sekarang. Boleh jadi, saya akan dipandang sebagai sosok yang kaku pada perkembangan zaman dan enggan menerima perubahan.

Saya sadar, dalam digitalisasi kehidupan, bukanlah teknologi yang menjadi masalah. Sejatinya, teknologi adalah alat yang memudahkan pekerjaan, bukan malah menjadikan manusia sebagai budak.

Ironisnya, yang terjadi adalah kita cenderung menormalisasi gaya hidup kekinian meskipun berada di luar konteks kepatutan dan kelayakan. Pun demikian bagi generasi sekarang yang memang lahir dan berkembang dalam pertumbuhan teknologi yang semakin masif.

Gen Z atau Generasi Z adalah kaum yang sangat mewakili generasi sekarang jika kita membahas tentang perilaku dan gaya hidup kekinian. Bukan berarti semua tentang generasi ini berkonotasi negatif. Namun, kecenderungan perilaku anak sekarang membuka mata kita bahwa telah terjadi pergeseran tata nilai dan perilaku yang terkadang membuat kita mengelus dada.

Begitu pula di dunia sekolah. Guru saat ini tak lagi menghadapi siswa masa silam. Semisal suasana sekolah di era ‘90-an. Masa itu, siswa masih “patuh-patuh”. Sikap dan perilakunya cenderung mudah dikendalikan dengan aturan dan tata tertib sekolah. Adab terjunjung tinggi.

Fokus murid terhadap pelajaran berjalan baik meskipun fasilitas dan sarana masih serbaterbatas. Waktu dan perhatian mereka belum terbelah oleh godaan telepon seluler atau hp dan internet. Guru tampil sebagai pendidik dan menjadi ‘role model’ bagi anak didiknya.

Di era kekinian, pergeseran sikap dan perilaku para Gen Z memberikan tantangan baru bagi dunia pendidikan dan guru. Bagi guru, bukan karena ketidakmampuannya dalam mendidik dan memberi keteladanan. Namun, teknologi telah ikut menggeser fungsi, peran, dan sosok guru di mata insan didik.

Keberadaan hp, internet, dan media sosial (medsos) memberi andil besar dalam perubahan gaya hidup dan perilaku anak sekarang.

Menjadi guru zaman sekarang ibarat berdiri di antara dua persimpangan arus. Satu arus berada pada perubahan digital yang serba cepat, sedangkan arus yang lain mengalir pada nilai-nilai pendidikan dan keteladanan.

Problem dilematik itu menimbulkan kegamangan, apakah guru harus memberi ruang bagi siswa untuk berperilaku sesuai perkembangan zaman atau mempertahankan pola didik yang bersandarkan pada nilai-nilai karakter dan jati diri bangsa.

Bagaimana menurut pembaca? Boleh jadi, kita memiliki keresahan serupa. Lihat saja dunia digital hari ini. Sesuatu yang dulu dianggap aneh bisa berubah menjadi tren hanya karena sering lewat di layar gawai. Perilaku yang awalnya dipandang tabu kini dianggap “estetik” dan “unik”.

Selama tidak merugikan orang lain, why not? Begitu kira-kira argumen penguat. Sedihnya, anak didik menyerap normalisasi itu jauh lebih cepat daripada praktik baik yang ditunjukkan guru.

Guru tak mampu berbuat banyak manakala menyaksikan murid-muridnya meniru tren yang tak sesuai dengan adat dan budaya bangsa sendiri. Guru yang memberikan nasihat dan edukasi, dipandang ketinggalan zaman. Guru yang memberikan pemahaman dianggap terlalu kaku dan serius. Ketika guru mengingatkan, direspons dengan jawaban, “Masa kita jadi anak jadul terus.”

Ada perasaan getir ketika mendengar bahasa prokem dan istilah gaul tak sopan meluncur ringan dari bibir peserta didik. Kata yang dulunya malu diucapkan, jadi wajar digunakan saat berbicara di dalam kelas, bahkan di depan gurunya sekalipun. Mereka meniru gaya dan berpakaian ala budaya luar agar terkesan gaul dan dianggap tak ketinggalan zaman. Padahal, modelnya tak sesuai dengan karakter kita.

Namun, apalah daya, generasi masa kini semakin terpapar layar. Teknologi informasi itu telah memengaruhi pikiran dan cara pandang sesuai ‘trending topic’.

Anak sekarang suka yang serbainstan dan tak rumit. Keranjingan menonton video pendek dan tak suka baca buku membuat murid yang dulu menghargai proses berpikir kini cenderung memilih versi tercepat, termudah, dan tersaji siap pakai. Maka tak heran, anak bisa dapat nilai bagus karena ‘copypaste’ Google saat buat tugas dari guru. Hasil kerja dengan nilai sempurna itu malah tak dikuasai ketika ditanyakan tanpa melihat teks karena memang tak dibaca ulang setelah disediakan mesin pencari.

Lebih gampang lagi, anak tinggal menyerahkan tugas PR pada toko jasa pengetikan. Hasil cetak selesai dalam hitungan menit. Dan, lembar tugas sekolah itu pun siap dikumpulkan tanpa dirasa perlu memahami isinya terlebih dahulu.

Di sisi lain, murid lebih menyerap apa yang sedang ‘trending’ daripada apa yang disampaikan oleh gurunya. Orang tua pun terkadang ikutan latah dalam menormalisasi perubahan gaya hidup dan perilaku anaknya. Di tengah kondisi dilematis itu, guru berjuang menjaga nilai, mengembalikan kesadaran kritis, dan memulihkan etika dasar yang makin kabur. Dalam diam, guru terus menjaga sesuatu yang tak bisa digantikan oleh mesin apa pun, yaitu perannya dalam mengawal peradaban dan martabat manusia.

Pernah ada pengalaman saat saya memotivasi siswa bahwa kesuksesan itu lahir dari giat belajar. Seorang murid menyela, “Tapi ada yang nggak sekolah tinggi, terus dia sudah kaya, sekarang jadi seleb.” Lalu dengan antusias dia menyebut satu nama yang kebetulan saya kenal. Seorang konten kreator yang (maaf) kontennya sering vulgar dan berbahasa kotor. Konten minus edukasi ini justru menarik minat siswa. Apa hendak dikata, kekuatan media sosial telah “menuntun” sang konten kreator menjadi motivator dan “panutan” gaya baru.

Namun, kondisi ini hendaknya tidak membuat para guru patah semangat. Guru harus terus mampu memosisikan diri dalam menebar pengabdian sebagai pendidik anak bangsa. Di tengah dunia saat ini yang dirajai teknologi, ada satu hal yang tak bisa tergantikan oleh apa pun, yaitu peran seorang guru dalam mendidik dan memberi keteladanan bagi keberlangsungan generasi yang berkualitas, bermartabat, berkarakter, dan berakhlaq mulia.


Suka dengan postingan berjudul Tantangan Pendidikan di Era Modern? Nggak ada salahnya untuk berlangganan update postingan terbaru dari Blog of Bang Hendra | All About Anything langsung via email sekarang juga. GRATISS!!!

0 Response to "Tantangan Pendidikan di Era Modern"

Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!

Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.

Chat Room

Kamu bisa chat bareng Admin di sini dengan Messenger.
Terima kasih

Chat on Messenger