Antivirus Made in Indonesia


Peter Norton dalam salah satu interview di pertengahan tahun 1980 pernah berkata bahwa ancaman virus hanya isapan jempol belaka dan ancaman virus tersebut hanya dibesar-besarkan. Hal tersebut sebenarnya tidak terlalu salah, "jika" anda hidup di tahun 1980-an. Tetapi jika anda cukup beruntung dan panjang umur sehingga bisa tetap hidup di tahun 1990-an anda akan mendapati kenyataan bahwa apa yang dikatakan Peter Norton tersebut salah. Apalagi di tahun 2000-an, industri antivirus sudah menjadi salah satu industri besar bernilai triliunan rupiah. Lalu kalau berbicara tentang antivirus di Indonesia, tentunya kita diingatkan kembali dengan aksi fenomenal virus lokal Rontokbro yang mampu memusingkan pembuat virus mancanegara dan secara tidak langsung membuat para programmer tergelitik untuk membuat program antivirus melawan Rontokbro dan gerombolan virus lokal lainnya. Banyak sekali antivirus lokal yang bermunculan untuk melawan virus-virus lokal tetapi mayoritas tenggelam ditelan waktu dan seleksi alam meninggalkan beberapa pemain antivirus lokal yang cukup tangguh seperti Pcmav, Smadav, Ansav dan Anvi.

Kawah Candradimuka
Jika anda bertanya, perusahaan antivirus lokal apa yang pertama kali menjual antivirus secara komersial di Indonesia. Jawabannya bukan Pcmav, Smadav atau Ansav, karena ketiga antivirus ini tidak menjual programnya secara komersial tetapi memberikannya secara gratis atau sebagai sisipan dari majalahnya. Kalaupun memang tiga perusahaan ini menjual antivirusnya secara komersialpun umurnya masih kalah dengan program antivirus yang satu ini. Bahkan kalau mau di lihat dari sisi umur, sebenarnya perusahaan yang pertama kali menjual antivirus di Indonesia secara komersial ini seumuran dengan Symantec (Norton) dan McAfee yang termasuk ke dalam pelopor antivirus komersial. Adalah Mikrodata yang merupakan majalah komputer di tahun 1990-an yang pertama kali menjual program antivirus dalam disket 5 ¼ inci dan di distribusikan melalui toko buku Gramedia. Program yang dinamakan Mikrodata Antivirus tersebut pada umumnya digunakan untuk membasmi virus lokal yang menginfeksi komputer di tahun 1990-an. Secara teoritis, harusnya Mikrodata Antivirus yang merupakan sepupu Norton dan McAfee bisa berkembang dengan baik dan menjadi satu perusahaan sekuriti dari Indonesia yang disegani, tetapi hal ini tidak terjadi. Mengapa ? Kalau ingin kita belajar dari sejarah, kemungkinan ada dua penyebab. Pertama adalah industri piranti lunak yang kurang dihargai di Indonesia pada saat itu dimana penghargaan atas HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) sangat rendah sehingga pembuat piranti lunak tidak mendapatkan dukungan / keuntungan finansial yang cukup dalam menjual produknya (banyak di bajak) sehingga secara pelan tapi pasti akan mematikan usaha pembuat piranti lunak dan akan makin sedikit orang yang berminat mengembangkan usahanya di bidang piranti lunak. Selain itu, kita juga tidak bisa menyalahkan pemerintah melulu, kemungkinan naluri bisnis yang belum mencium adanya peluang besar di sektor sekuriti ini. Tetapi yang jelas, sumbangan Mikrodata terhadap perkembangan sekuriti di Indonesia pada tahun-tahun berikutnya juga masih besar dimana pembuat antivirus lokal yang dominan di kancah pervirusan Indonesia setidaknya pernah mendapatkan banyak ilmu dari Mikrodata. Kalau praktisi sekuriti dan antivirus di ibaratkan Gatotkaca, maka Mikrodata adalah kawah Candradimuka.

Brontok si pemberontak
Sangat sulit membicarakan program antivirus tanpa membicarakan virus. Ibarat kalau kita bicara polisi itu ada karena ada maling / penjahat. Kalau tidak ada penjahat atau pelanggar peraturan, yah polisi tidak diperlukan. Antivirus itu ada karena ada virus dan kalau mau meniadakan antivirus, tentunya hilangkan saja virus, otomatis antivirus tidak diperlukan lagi. Tetapi apakah mungkin meniadakan virus ? Pertanyaan yang sama dapat diajukan adalah : Apakah mungkin meniadakan orang jahat ? Jawabannya sudah jelas, tidak mungkin. Tetapi sering muncul kecurigaan para pengguna komputer, khususnya yang pernah menjadi korban virus dan bete sekali dengan virus, apalagi pas mau bersihkan virus dia harus bayar lagi. Bahwa pembuat virus itu adalah pembuat antivirus karena jelas-jelas mereka yang mendapatkan keuntungan dari penyebaran virus. Percuma juga para pembuat antivirus menyangkal tuduhan ini, karena buntut-buntunya penuduh akan bilang, "Maling mana ada yang mau mengaku ?" Maka hal yang paling mudah dilakukan adalah melihat sejarah lagi. Para pembuat virus yang tertangkap seperti pembuat virus Melissa, I Love You, Anna Kournikova dan Netsky yang tertangkap polisi dan di hukum semuanya tidak bekerja untuk perusahaan antivirus dan membuat virus hanya berdasarkan keisengan, kebanggaan, rasa ingin dihargai bahwa mereka pintar (walaupun dalam perkembangan terakhir, pembuat virus mulai mengorganisir diri mereka dan mencari cara untuk mendapatkan uang secara langsung dari penyebaran virusnya baik dengan menipu, menakut-nakuti atau mengancam korbannya dengan menyebarkan Rogue Antivirus / antivirus palsu). Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Walaupun sebelumnya sempat muncul virus lokal Kangen yang dibuat oleh mahasiswa dari kota Pempek dan (mungkin) karena tidak mau kalah dari kota Palembang seorang programmer dari kota Kembang meluncurkan virus ciptaannya di pertengahan tahun 2005 yang celakanya dan diikuti oleh ratusan pembuat virus dari kota-kota lain di seluruh Indonesia sehingga menyebabkan banjir virus lokal. Hebatnya lagi, varian virus yang muncul berikutnya yang makin canggih dan mampu mengelabui program antivirus mancanegara. Virus yang dikenal dengan nama Brontok / Rontokbro (nama virus ini diilhami oleh Elang Jawa / Brontok) ini mampu menyebar dengan sangat efektif karena memanfaatkan penyebaran melalui UFD (USB Flash Disk) dimana penyebaran dan penggunaan UFD di Indonesia pada saat itu sangat tinggi. Hal ini disebabkan karena kondisi perekonomian masyarakat dan infrastruktur internet Indonesia yang masih lemah sehingga mayoritas mengakses internet melalui warnet dan menyimpan data-data pentingnya menggunakan UFD.

Pada saat antivirus mancanegara kewalahan menghadapi virus lokal, muncul antivirus yang diberikan secara gratis oleh majalah PC Media dan menamakan dirinya PCMav. Dalam perkembangannya PCMav dapat mendeteksi dan membersihkan virus lokal dengan baik dan mendapat hati di cukup banyak pengguna komputer. Seiring berjalannya waktu, muncul banyak antivirus lokal lain seperti Ansav, AVI, Smadav, Elkav, Morphost dan banyak antivirus lainnya yang jumlahnya mencapai 40-an. Tetapi seiring berjalannya waktu, para antivirus lokal ini berguguran dan meninggalkan gelanggang antivirus lokal pada beberapa pemain utama saja. Dua antivirus lokal yang saat ini dikatakan bersaing sangat ketat adalah PCMav dan Smadav. Uniknya, masing-masing antivirus memiliki pendukung dan penggemar fanatik. Dalam tingkatan tertentu penggemar masing-masing antivirus sudah seperti pengguna sistem operasi komputer saja, yang sangat fanatik dan cinta mati dengan antivirusnya. Ibarat Bonek yang cinta mati dengan Persebaya yang demi membela tim kesayangannya meskipun cekak tetapi rela berdesak-desakan di kereta guna membela tim kesayangannya. Dan sama seperti Bonek, jika bertemu dengan penggemar tim lain maka yang terjadi adalah gesekan-gesekan yang tidak perlu seperti perkelahian antar penggemar. Padahal dalam sepakbola ... eh salah ... dalam dunia pervirusan sudah menjadi hukum dasar bahwa virus selalu selangkah lebih maju daripada antivirus sehingga lebih baik energi yang berlebihan ini dicurahkan pada usaha untuk memperbaiki engine dan menambah database antivirus daripada saling menjelekkan atau menyerang. Para pembuat antivirus mancanegara yang notabene saling bersaing keras di pemasaran antivirus masih bisa bersatu dan berkumpul dalam wadah-wadah yang dapat membantu menguatkan industri antivirus seperti EICAR, AVAR dan Virus Bulletin.

Kualitas Antivirus Lokal
Ibarat TIM Nasional Indonesia yang tidak terkalahkan di Senayan, antivirus lokal masih menjadi jagoan kandang, PCMav dan Smadav memang sering terbukti lebih baik dari antivirus mancanegara dalam mendeteksi dan memberishkan virus lokal (walaupun terlihat beberapa antivirus mancanegara mulai menyadari hal ini dan mulai meningkatkan usahanya dalam meningkatkan database virus lokal) tetapi kalau urusan virus impor, antivirus lokal masih keteteran. Hal ini bukannya tidak disadari oleh antivirus lokal, terbukti PCMav yang berusaha melengkapi dirinya dengan plugin antivirus open source Clamav sehingga "diharapkan" mampu menjadi produk yang mumpuni dan mampu mendeteksi virus lokal dan virus mancanegara. Tetapi yang menjadi masalah adalah dunia virus ini luar biasa dinamis dan membutuhkan stamina dan energi yang tidak terbatas untuk selalu mengupdate database antivirus. Pada saat ini, Clamav saja sudah keteteran dalam mendeteksi sample virus, dimana menurut pengetesan dari lembaga independen seperti AV-Comparative.org kemampuan deteksi virusnya masih kalah jika dibandingkan dengan antivirus konersial atau gratis lainnya.

Antivirus Made in Indonesia di kancah Global
Bukan tidak mungkin bagi antivirus Indonesia untuk bersaing dengan antivirus global dan tidak menjadi jago kandang saja. Ada beberapa hal yang menurut penulis harus dimiliki seperti :
  • Bahasa pemrograman disarankan menggunakan bahasa C.
  • Interface dalam Bahasa Inggris, hal ini merupakan persyaratan dasar. Kalau bisa malah tersedia dalam berbagai macam bahasa.
  • Kemampuan pengumpulan sample virus mancanegara yang konsisten dan analis yang ready 24 jam. Hal ini dapat dicapai salah satunya dengan menjadi anggota komunitas pembuat antivirus seperti Eicar, Virus Bulletin atau AVAR.
  • Penghargaan yang tinggi atas HAKI dan karya anak negeri sendiri.
  • Model bisnis yang jelas dan mampu bertahan untuk jangka panjang. Persaingan antar perusahaan antivirus yang semakin hari semakin tajam. Jangankan saling membanting harga, sampai satu titik tertentu mau antivirus yang gratisan saja sudah banyak tersedia. Jangan menganggap kalau gratisan itu kualitasnya tidak baik, lihat AVG, Avira, Dr. Web Cureit! yang jelas-jelas memiliki kemampuan mendeteksi dan membasmi virus dengan sangat baik juga tersedia secara gratis untuk para pengguna komputer. Antivirus gratisan seperti memiliki program dan tujuan yang jelas menggratiskan antivirusnya, dimana mereka menyediakan antivirus berbayar untuk program antivirus yang lebih canggih.
Sumber : Vaksincom

Suka dengan postingan berjudul Antivirus Made in Indonesia? Nggak ada salahnya untuk berlangganan update postingan terbaru dari Blog of Bang Hendra langsung via email sekarang juga. GRATISS!!!

6 Responses to "Antivirus Made in Indonesia"

  1. tuh kan ada buatan kita juga...
    pertanyaannya, ada yg pakek kagak tuh...hihihihi

    BalasHapus
  2. persaingan global ni,, hahaa :D

    BalasHapus
  3. Keren artikelnya, informasinya yang bermanfaat, ma kasih gan

    BalasHapus
  4. sebenarnya karya anak bangsa itu g kalah sama yg lain,,, tapi banyak yg kuarang menghargainya,,, hehehe

    BalasHapus
  5. Trimakasih infonya...pakailah buatan dalam negri..

    BalasHapus

Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!

Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.

Chat Room

Kamu bisa chat bareng Admin di sini dengan Messenger.
Terima kasih

Chat on Messenger