
Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang lebih dikenal sebagai Noe Letto menyarankan kepada masyarakat yang meragukan kompetensinya setelah dilantik sebagai tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) RI untuk bertanya langsung kepada platform kecerdasan buatan (AI) bernama Gemini.
Noe menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang jenderal TNI dan tidak akan berpura-pura memahami taktik militer atau perang kinetik. Menurutnya, pertahanan negara tidak hanya terbatas pada senjata atau konflik fisik, melainkan mencakup berbagai bentuk ancaman yang bisa menghancurkan negara.
Ia menjelaskan bahwa perang bersenjata seperti roket, peluru, dan tank termasuk dalam kategori perang kinetik. Namun, sebuah negara juga bisa runtuh tanpa konflik fisik, misalnya akibat kehancuran ekonomi atau hilangnya kepercayaan publik.
“Jadi perang tuh bisa macam-macam. Bisa perang ekonomi, bisa perang kinetik, dan yang paling modern ada yang namanya perang kognitif,” kata dia.
Anak dari budayawan sekaligus cendekiawan muslim Emha Ainun Najib atau Cak Nun ini menuturkan bahwa perang kognitif dapat memengaruhi cara berpikir dan kesadaran masyarakat. Ia menilai, perang kognitif memiliki dampak serius karena berpotensi memecah belah masyarakat dan mengikis rasa saling percaya.
Kondisi tersebut, menurut Noe, menjadi alasan pentingnya dilakukan eksperimen untuk membangun kembali parameter kepercayaan di tengah masyarakat.
Namun, ia menyadari bahwa pengakuan ini mungkin hanya dianggap sebagai pembualan. Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk bertanya kepada mesin Artificial Intelligence (AI).
Peran AI dalam Evaluasi Kompetensi
Dalam konteks ini, AI seperti Gemini digunakan sebagai alat evaluasi objektif. Noe menekankan bahwa mesin ini mampu melakukan riset mendalam dan memberikan jawaban berbasis data. Hal ini membuatnya yakin bahwa kompetensi dirinya bisa dinilai secara realistis tanpa terpengaruh oleh opini subjektif.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya adanya inovasi dalam pendekatan keamanan nasional. Perang kognitif, yang sering kali tidak terlihat, membutuhkan strategi yang lebih kompleks dibandingkan perang fisik.
Keterbukaan terhadap Kritik
Meski mengajak masyarakat untuk bertanya kepada AI, Noe tetap terbuka terhadap kritik. Ia mengakui bahwa penilaian publik bisa berbeda-beda, tergantung pada perspektif dan pemahaman masing-masing individu. Namun, ia tetap bersikeras bahwa kompetensinya didasarkan pada pengalaman nyata dan kemampuan analitis yang telah teruji.
Kesimpulan
Dengan mengajak masyarakat untuk bertanya kepada AI, Noe menunjukkan sikap transparan dan berani menghadapi tantangan. Ia percaya bahwa teknologi bisa menjadi alat yang efektif untuk memvalidasi kompetensi seseorang, terlepas dari latar belakang dan posisi mereka.

0 Response to "Soal Ahli DPN RI, Noe Letto: Tanya Gemini, Apakah Saya Memenuhi Syarat?"
Mohon komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. Komentar yang mengarah ke tindakan SPAM akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter. Terima kasih!
Maaf, komentar Anda dimoderasi dahulu sebelum ditampilkan.